Cari Tahu Rasanya Mati Suri ini Penjelasannya

Cari Tahu Rasanya Mati Suri ini Penjelasannya

Tidak semua orang dapat mengalami mati suri. Berdiri di ambang kehidupan dan kematian merupakan suatu pengalaman yang tiada duanya bagi seseorang. Seringkali, mati suri berkiatan dengan perasaan damai, cahaya terang, dan jiwa yang terputus dari raga.

Sebuah studi baru mengenai kronologi mati suri mendapati bahwa tidak semua orang mengalami urutan langkah-langkah yang sama, yang dapat membantu menyingkirkan hubungan kompleks antara neurologi dan budaya di ambang hidupnya.

Studi yang dilakukan oleh peneliti Belgia ini didasarkan pada 154 tanggapan survei responden dan narasi yang dikumpulkan melalui International Association for Near-Death Studies and the Coma Science Group.

Responden dipilih menggunakan skala Greyson NDE, sebuah metrik yang dikembangkan oleh Bruce Greyson—psikolog AS. Skala ini dirancang untuk memberikan struktur dan konsistensi dalam mengevaluasi pengalaman yang diingat oleh pasien saat mengalami perhentian jantung.

Istilah Near Death Experience (NDE) atau mati suri muncul pada tahun 1975 ketika psikolog bernama Raymond Moody menggunakannya untuk menggambarkan apa yang disebut dengan ‘menengok dunia lain’.

Kini, cerita mati suri hampir bersifat klise. Cahaya terang, terowongan, dan emosi positif sudah menjadi hal yang biasa didengar mengenai pengalaman mati suri. Tahapan ini pun dianggap sebagai gambaran singkat dari kehidupan setelah kematian.

Mempelajari fenomena ini begitu menarik sekaligus rumit. Hal itu disebabkan karena sulitnya memisahkan bias budaya dari proses neurologis dan tantangan etika dalam mencatat data fisiologis pada saat kritis.

Yang lebih buruk lagi, bidang penelitian ini nyaris berkaitan dengan penelitian ‘abal-abal’ yang sering muncul. Sehingga, sulit untuk mengetahui di mana kinerja otak akan berakhir dan pseudosains—tipuan yang dianggap ilmiah—dimulai.

Dari keseluruhan studi mengenai mati suri, sekitar 4-15% penduduk dunia telah mengalami pengalaman tersebut. Bahkan, beberapa dari mereka melaporkan bahwa ‘pengalaman di akhirat’ itu tidak harus melalui mati suri. Menurut mereka, hal ini lebih berkaitan dengan respons neurologis terhadap stres daripada kematian itu sendiri.

Sesungguhnya, ini bukanlah penelitian pertama mengenai mati suri. Sebelumnya, sebuah studi oleh ahli saraf, Sam Parnia, menemukan tujuh kategori ingatan selama NDE. Sedangkan dalam studi yang baru, peneliti mengungkap pengamatan spesifik yang diingat oleh para responden dan mencatat kronologi mati suri tersebut. Penelitian ini pun dipublikasikan di Frontiers in Human Neuroscience.

“Tujuan penelitian kami adalah untuk menyelidiki distribusi frekuensi dari keistimewaan ini, baik secara global maupun narasi, serta urutan temporalitas yang paling sering dilaporkan dari keistimewaan pengalaman yang berbeda,” kata Charlotte Martial, peneliti dari University of Liège.

Dari seluruh responden, 80% merasakan kedamaian, 69% melihat cahaya yang terang, dan 64% menemui ‘sosok’ lain. Hanya 5% yang merasakan ‘berpikir cepat’ dan 4% menggambarkan apa yang disebut sebagai penglihatan prekognitif—penglihatan masa depan.

Dari segi kronologi, 22% responden mengaku telah mengalami pemisahan roh dari tubuh, diikuti dengan menyusuri terowongan, melihat cahaya terang, dan merasakan kedamaian. Sepertiga dari mereka mengalami sensasi pemisahan roh dan akhirnya kembali lagi ke tubuh.

“Ini menunjukkan bahwa mati suri tampaknya diawali oleh pemisahan roh dari tubuh, dan berakhir ketika roh kembali ke dalam tubuh,” ucap Martial.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian semacam ini. Responden dipilih berdasarkan kemauan mereka sendiri. Responden yang kurang nyaman menceritakan pengalamannya tidak dilibatkan dalam survei ini.

Selain itu, semua responden menggunakan Bahasa Prancis. Itu berarti, sulit mengetahui seberapa besar pengaruh latar belakang budaya terhadap pengalaman mereka.

Jika penelitian seperti ini direplikasi secara luas di populasi lain, hal itu dapat membantu menyoroti aspek fenomena mati suri yang biasa terjadi di sekitar kita.

“Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi perbedaan dan tingkat pengalaman responden yang berkaitan dengan harapan dan latar belakang budaya mereka. Mekanisme neurofisiologis yang mendasari pengalaman mati suri juga perlu untuk diselidiki,” jelas Martial.

Alami Nyeri Bahu Jangan Asal Urut dan Minum Obat

Alami Nyeri Bahu Jangan Asal Urut dan Minum Obat

Mengalami nyeri di bahu? Tindakan yang biasa Anda lakukan mungkin hanya menempel koyok, kerokan, dan minum obat anti-nyeri.

Mulai detik ini, Anda harus tahu satu hal. Tidak semua nyeri bahu disebabkan oleh masalah otot ringan yang bakal selesai dengan tindakan biasa.

"Kalau setelah 3 sampai 7 hari nyeri tidak sembuh dan malah bertambah, itu saatnya Anda harus ke dokter," kata dr Iman Widya Aminata Sp.OT, dokter spesialis ortopedi dari Rumah Sakit Pondok Indah.

Ia menjelaskan, nyeri bahu bisa dipicu oleh beragam sebab. Salah satunya adalah arthritis, kerusakan tulang tawan sendi yang terjadi karena proses degenerasi.

Pemicu lain adalah instabilitas. Tandanya, rasa nyeri saat tangan digerakkan menjauhi tubuh. Instabilitas bisa terjadi karena robeknya bagian labrum atau bumper sendi.

"80 persen instabilitas disebabkan oleh trauma, misalnya jatuh. Bisa juga karena cedera yang berulang, misalnya pada orang-orang yang nge-gym," katanya.

Bursitis merupakan penyebab lainnya. Tandanya adalah nyeri saat bahu diangkat ke atas. Cedera ini dapat terjadi bila bahu digunakan secara berlebihan.

"Contoh, kita tiba-tiba push up 100 kali padahal belum pernah berolahraga berat sebelumnya. Ini bisa memiu bursitis," ujar Iman.

Iman meminta setiap orang waspada dengan rasa nyeri bahu yang kasus kejadiannya merupakan ketiga terbanyak setelah nyeri tulang belakang dan nyeri lutut.

Saat mulai merasakan nyeri, semua boleh saja mengonsumsi anti-nyeri, kerokan, atau menempel koyok. Namun, pikir-pikir sebelum mengurut sebab bisa memperparah kondisi.

Iman menyarankan, "Perawatan pertama, kompres dengan es. Lalu coba minum obat pereda rasa sakit. Setelah itu rasakan perubahannya."

Menurutnya, bila rasa nyeri makin hebat dan berlangsung secara terus menerus, maka pada hari ketiga sebaiknya mengunjungi dokter untuk perawatan segera.

"Makin lama ketahuan, makin repot perawatannya. Sendi geser yang harusnya bisa selesai 10 menit bisa harus ditangani dengan operasi bila datangnya 7 bulan kemudian dengan kondisi lebih buruk," katanya.

Dalam diskusi media soal nyeri bahu pada Kamis (3/8/2017), Iman mengatakan bahwa untuk mencegah nyeri bahu, orang bisa melakukan gerakan tertentu setiap hari.

"Paling efektif adalah berenang gaya bebas. Itu semua otot bahu bergerak, otot lainnya juga. Selain itu bisa rowing. Kalau bahu sakit, hindari gerakan overhead," katanya.

Matahari di Perkirakan Lebih Besar dari Perkiraan Sebelumnya

Matahari di Perkirakan Lebih Besar dari Perkiraan Sebelumnya

Selama ini, International Astronomic Union (IAU) telah menetapkan radius matahari sebagai 695.700 kilometers dengan margin of error sebanyak 140 kilometer. Namun, kini para peneliti mulai menduga bahwa matahari bisa jadi lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.

Xavier Jubier, seorang peneliti dari Antony, Perancis yang menciptakan model gerhana matahari dan bulan untuk Google Maps, adalah salah satu yang menemukan kesalahan pada radius matahari saat ini. Ketika dia sedang memprediksikan jatuhnya bayangan gerhana pada bumi, Jubier mendapati bahwa simulasi gerhananya tidak sesuai dengan foto asli.

Melalui foto-foto tersebut, Jubier kemudian mencari tahu di mana letak fotografer ketika gerhana terjadi dan mengalkulasikannya.

Ternyata, kesalahan terletak pada radius matahari. Jubier mendapati bahwa radius matahari pada saat ini tidak hanya salah sebanyak 140 kilometer, tetapi beberapa ratus kilometer lebih kecil dari sebenarnya.

Jubier juga bukan orang pertama yang menemukan kesalahan ini. Sekitar dua tahun yang lalu, peneliti NASA Ernie Wright juga mendapati konklusi yang sama ketika menciptakan sedang menciptakan model gerhana matahari. Dia harus memperbesar radius matahari dalam kalkulasinya untuk mencocokkan dengan kenyataan.

“Bagaimana kita tidak mengetahui hal ini? Kita hanya perlu mengangkat penggaris ke angkasa dan mengukurnya,” ujar Wright mengingat kembali bagaimana dia memarahi dirinya sendiri.

Namun, mengukur matahari tidak semudah mengukur tinggi badan manusia. Radius matahari yang kini diakui oleh IAU, misalnya.

Angka tersebut didasarkan pada sebuah studi yang dipublikasikan pada tahun 2008 dan mendapatkannya, para peneliti mengukur radius matahari hingga fotosfer, lapisan cahaya yang dapat kita lihat dengan mata telanjang.

Akan tetapi, karena matahari terlalu terang dan sering mengalami fluktuasi, mendapatkan radius matahari yang benar-benar akurat sangatlah sulit.