NASA Cari Anggota Pelindung Bumi dari Alien

NASA Cari Anggota Pelindung Bumi dari Alien

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini sedang mencari Staf Pelindung Planet dari ancaman dan kontaminasi alien.

Lowongan yang terbuka bagi warga Amerika Serikat dengan deadline 14 Agustus 2017 itu dibuka demi tujuan mempersiapkan diri dengan kemungkinan ancaman dari luar angkasa.

Tugasnya kurang lebih adalah menghindarkan astronot dan robot dari ancaman kontaminasi material organik dan biologi selama perjalanan luar angkasa.

Penasaran dengan gajinya? Dalam pengumumannya, NASA menawarkan rentang gaji Rp 1,7 - 2,5 miliar per tahun, alias mencapai Rp 100-an juta per bulan.

Setiap staf yang berhasil lolos bisa menjalani masa percobaan selama setahun. Karyawan lalu akan dikontrak selama 3 tahun dan kemungkinan bisa diperpanjang 2 tahun kemudian.

Selama bekerja, staf akan menyusun sejumlah misi terkait kehidupan di luar angkasa, salah satunya mencari tanda-tanda kehidupan di Europa, bulan Jupiter.

"Staf Perlindungan Planet bertanggung jawab pada misi perlindungan NASA, menyusun kebijakan perlindungan, dan mengawasi jalannya misi antariksa NASA," demikian dinyatakan di situs NASA, Juli.

Setara dengan gajinya yang besar, orang yang menjadi staf nanti akan bekerja keras, bukan cuma untuk NASA tapi badan-badan yang bekerjasama dengannya.

Lowongan dibuka bagi mereka yang lulus S-1 dari jurusan fisika, matematika, dan teknik dengan minimal 24 SKS di mekanika, dinamika, elektronika, dan beberapa bidang yang masuk fisika murni.

Meniup Lilin Ulang Tahun itu Baik Gak Sih atau Jorok

Meniup Lilin Ulang Tahun itu Baik Gak Sih atau Jorok

Setelah membaca artikel ini, Anda mungkin akan berpikir ulang sebelum memutuskan untuk meniup lilin kue ulang. Pasalnya, sebuah studi baru saja mengungkapkan betapa joroknya tindakan tersebut.

Dipublikasikan dalam Journal of Food Research, para peneliti dari Clemson University di Carolina Selatan, AS, menemukan bahwa meniup lilin meningkatkan jumlah bakteri pada kue sebanyak 1.400 persen.

Untuk menguji tingkat kejorokan meniup lilin, para peneliti membuat kue palsu berupa styrofoam yang dilapisi oleh alumunium foil. Para peneliti kemudian membungkus kue dengan frosting dan meletakkan lilin di atasnya.

Para partisipan juga diminta untuk mencium dan memakan sepotong pizza panas yang biasanya dihidangkan di acara ulang tahun untuk menstimulasi produksi air liur sebelum meniup lilin.

Setelah itu, para peneliti mengumpulkan sampel dari alumunium foil dan mengulangi eksperimen ini tiga kali.

Secara rata-rata, meniup lilin ternyata melipatgandakan jumlah bakteri pada frosting menjadi 15 kali lipat jumlah awal. Salah satu partisipan bahkan meningkatkannya menjadi 120 kali lipat.

“Beberapa orang meniup kue dan tidak menularkan bakteri apa pun. Di sisi lain, ada satu atau dua orang yang tidak tahu mengapa menularkan banyak sekali bakteri,” ujar Professor Paul Dawson, pemimpin penelitian, kepada Atlantic 27 Juli 2017.

Namun, Anda tidak perlu paranoid duluan. Pasalnya, bakteri adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Walaupun para peneliti juga menemukan beberapa kuman yang bisa membahayakan kesehatan seperti Streptococcus pneumonia dan Staphylococcus aureus, tetapi jumlahnya tidak cukup banyak untuk dikhawatirkan.

Dawson berkata bahwa meniup lilin bukanlah masalah kesehatan serius. “Sebenarnya, kalau pun Anda melakukan ini 100.000 kali, kemungkinan untuk jatuh sakit sangatlah kecil,” ujarnya.

Tingkatkan Daya Pikir Dengan Makan Sayuran Hijau

Tingkatkan Daya Pikir Dengan Makan Sayuran Hijau

Penelitian yang melibatkan 60 orang dewasa berusia 25 sampai 45 tahun itu mengungkapkan bahwa peserta paruh baya dengan tingkat lutein lebih tinggi—nutrisi yang terdapat pada sayuran hijau seperti bayam dan kangkung, serta alpukat dan telur—memiliki respons saraf yang setara dengan orang yang lebih muda. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience.

"Sekarang ada alasan tambahan untuk mengonsumsi makanan kaya nutrisi seperti sayuran hijau, telur dan alpukat," kata Naiman Khan, seorang profesor kinesiologi dan kesehatan masyarakat di Illinois. "Kami tahu sayuran ini bermanfaat bagi kesehatan. Namun, data menunjukkan bahwa mungkin ada manfaat kognitif juga,” tambahnya.

Sebagian besar penelitian lain berfokus pada orang dewasa yang lebih tua yang telah mengalami penuaan. Peneliti Illinois memilih untuk fokus pada orang dewasa muda sampai paruh baya, untuk melihat apakah ada perbedaan yang mencolok antara tingkat lutein yang lebih tinggi dan lebih rendah.

"Sebagai orang yang bertambah tua, mereka mengalami penuaan yang khas. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa proses ini bisa datang lebih awal dari dugaan kita,” ujar Anne Walk, penulis pertama jurnal.

"Kami ingin memahami bagaimana sayuran mempengaruhi kognisi selama hidup. Jika lutein dapat melindungi kita dari penuaan, tentunya kami akan mendorong orang lain untuk mengkonsumsi makanan kaya lutein,” tambah Walk.

Lutein adalah nutrisi yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Oleh karena itu, lutein harus didapatkan melalui sayuran. Lutein terakumulasi di jaringan otak dan mata, yang memungkinkan peneliti mengukur tingkatan tanpa bergantung pada teknik invasif—tindakan medis yang bersifat ‘melukai’ jaringan tubuh manusia.

Peneliti Illinois mengukur lutein di mata peserta riset dengan meminta mereka untuk melihat ke suatu bidang dan merespons cahaya yang berkedip-kedip. Kemudian, dengan menggunakan elektroda pada kulit kepala, para peneliti mengukur aktivitas syaraf di otak. Sedangkan, para peserta mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi penuh.

"Neuroelektrik peserta yang lebih tua dengan kadar lutein yang lebih tinggi tampak mirip dengan peserta yang lebih muda, dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang rendah lutein,” ungkap Walk.

"Lutein tampaknya memiliki peran protektif. Hal ini berdasarkan temuan bahwa orang yang memiliki lebih banyak lutein dapat melibatkan lebih banyak sumber kognitif untuk menyelesaikan tugas tersebut,” Walk menambahkan.

Selanjutnya, kelompok Khan menjalankan percobaan intervensi. Percobaan ini dilakukan untuk memahami bagaimana peningkatan konsumsi sayuran hijau dapat meningkatkan lutein di mata, dan seberapa erat hubungannya dengan perubahan kinerja kognitif.

"Dalam penelitian ini, kami berpusat pada fokus perhatian peserta. Kami ingin memahami efek lutein pada pembelajaran dan memori seseorang. Ada banyak hal yang ingin kami ketahui," jelas Khan.